TEP UI Bekali 17 Desa Kawasan Transmigrasi Mangoli “8 Aksi Petani Tanggap Perubahan Iklim”

Sanana, Kepulauan Sula – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI) bekali petani kawasan transmigrasi “8 Aksi Tanggap Perubahan Iklim” di Kawasan Transmigrasi Mangoli, Kepulauan Sula, Maluku Utara. Program ini digelar dalam rangkaian Workshop & Fieldtrip Best Practice yang berlangsung pada 10–13 November 2025. Tujuan utama kegiatan ini adalah membekali para petani desa dengan strategi adaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan di sektor pertanian. Kegiatan ini diikuti oleh 17 desa dari kawasan transmigrasi yang tengah dikembangkan menjadi kawasan produktif. Melalui kegiatan ini, TEP UI berupaya memperkuat kapasitas petani agar lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem dan ketidakpastian iklim.

Dalam pelatihan tersebut, para petani diperkenalkan pada delapan aksi konkret untuk menghadapi perubahan iklim oleh narasumber, Bapak Nandang Heryana Mulya. Aksi pertama adalah pengukuran curah hujan. Aksi kedua, pengamatan agroekosistem harian pada lahan. Aksi ketiga analisis dan evaluasi hasil panen. Aksi keempat, pengorganisasian warung ilmiah lapangan oleh petani. Aksi kelima, perumusan dan penyebarluasan skenario musiman. Aksi keenam, menyampaikan pengetahuan baru. Aksi ketujuh, panduan eksperimen petani. Aksi kedelapan, digitalisasi data.

Menurut Ketua TEP UI, Prof. Manneke Budiman, M.A., PhD., kegiatan ini tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga mengubah pola pikir petani terhadap pentingnya mitigasi perubahan iklim. Para petani diajak memahami bahwa perubahan iklim tidak dapat dihindari, namun dapat dihadapi dengan strategi adaptif yang tepat. Setiap peserta diwajibkan menyusun rencana aksi desa tanggap iklim yang akan diterapkan setelah pelatihan berakhir. Dengan begitu, hasil kegiatan ini tidak berhenti pada level individu, melainkan menjadi gerakan kolektif di tingkat komunitas. Pendekatan partisipatif ini diharapkan memperkuat kemandirian petani dalam menghadapi tantangan global.

Kepala Dinas Transmigrasi Kepulauan Sula mengapresiasi kegiatan ini sebagai inisiatif nyata yang mampu meningkatkan kapasitas petani lokal. Menurutnya, pembekalan aksi tanggap perubahan iklim menjadi kebutuhan mendesak mengingat fluktuasi cuaca di wilayah kepulauan semakin sulit diprediksi. Ia berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak pihak, termasuk lembaga riset dan perguruan tinggi. Pemerintah daerah berkomitmen untuk mendukung implementasi rencana aksi yang disusun oleh para peserta pelatihan. Kolaborasi lintas lembaga ini menjadi contoh nyata sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ketahanan iklim di wilayah transmigrasi.

Skriptoria

Writer & Blogger

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ARTIKEL LAINNYA
  • All Posts
  • Berita

©Copyright Skriptoria Ahliney Manuskrip | Develop By Webskill.id