Miniatur Persia yang menggambarkan kisah “Bahtera Nabi Nuh” merupakan salah satu ilustrasi penting dalam karya sejarah Islam abad pertengahan. Miniatur ini berasal dari Majmaʿ al-tawarikh karya Hafiz-i Abru. Karya tersebut memperlihatkan bagaimana narasi keagamaan disajikan secara visual dalam tradisi historiografi Persia. Penggambaran Bahtera Nuh tidak hanya bersifat religius, tetapi juga simbolis. Ia merepresentasikan penyelamatan, kesinambungan sejarah, dan kehendak Ilahi.
Hafiz-i Abru adalah seorang sejarawan Persia terkemuka yang hidup pada masa Dinasti Timuriyah. Ia wafat pada Juni 1430 dan dikenal luas di lingkungan istana. Namanya tercatat dalam berbagai variasi ejaan di sumber-sumber Barat. Perbedaan penulisan ini mencerminkan luasnya pengaruh karya-karyanya. Ia menjadi salah satu figur penting dalam perkembangan historiografi Islam Persia.
Nama lengkap Hafiz-i Abru adalah ʿAbdallah atau Nur-Allah ibn Lotf-Allah ibn ʿAbd-al-Rashid Behdadini. Penyebutan nama panjang ini menunjukkan tradisi genealogis dalam penulisan biografi Islam. Identitasnya tidak hanya melekat pada karyanya, tetapi juga pada latar sosial dan intelektualnya. Dalam literatur Barat, ia sering disebut sebagai Hafiz-i Abru atau Hafez-e Abru. Variasi ini menunjukkan proses transmisi pengetahuan lintas budaya.
Hafiz-i Abru lahir di wilayah Khorasan, salah satu pusat intelektual dunia Islam. Ia kemudian menempuh pendidikan di Hamadan. Pendidikan ini membentuk dasar keilmuannya dalam sejarah dan geografi. Lingkungan akademik tersebut mempersiapkannya memasuki dunia istana. Dari sinilah karier intelektualnya berkembang pesat.
Pada dekade 1380-an, Hafiz-i Abru memasuki istana Timur. Ia menjadi bagian dari lingkaran intelektual yang mendukung legitimasi kekuasaan Timuriyah. Setelah wafatnya Timur, ia tetap mengabdi di bawah pemerintahan Shah Rukh. Pusat aktivitasnya berpindah ke Herat, kota penting budaya dan ilmu pengetahuan. Kesetiaannya pada dinasti mencerminkan peran sejarawan sebagai pelayan negara.
Di istana Timurid, Hafiz-i Abru berinteraksi dengan para ulama dan cendekiawan terkemuka. Lingkungan ini mendorong berkembangnya karya-karya ilmiah besar. Ia tidak hanya dikenal sebagai sejarawan, tetapi juga sebagai intelektual serba bisa. Salah satu keahliannya adalah bermain catur. Hal ini menunjukkan keluasan minat dan kecakapannya.
Karya-karya Hafiz-i Abru mencakup sejarah dan geografi wilayah Timurid dan kawasan sekitarnya. Banyak di antaranya disusun atas permintaan Shah Rukh. Penulisan sejarah menjadi alat penting untuk memperkuat legitimasi politik dinasti. Narasi sejarah disusun secara sistematis dan kronologis. Dengan demikian, karya-karyanya berfungsi sebagai arsip resmi kekuasaan.
Karya paling terkenal Hafiz-i Abru adalah Majmaʿ al-tawarikh. Judul ini dapat diterjemahkan sebagai “Kumpulan Sejarah” atau “Sejarah Dunia”. Karya ini mencerminkan ambisi universal historiografi Islam. Ia menggabungkan sejarah nabi, kerajaan kuno, dan dinasti Islam. Pendekatan ini menempatkan sejarah Timurid dalam kerangka global.
Miniatur Bahtera Nabi Nuh dalam Majmaʿ al-tawarikh menjadi contoh penting integrasi teks dan visual. Ilustrasi ini membantu pembaca memahami narasi sejarah secara lebih hidup. Seni miniatur Persia berfungsi sebagai medium pedagogis. Ia juga memperkaya makna simbolik teks. Dengan demikian, sejarah tidak hanya dibaca, tetapi juga dilihat.
Penggambaran Bahtera Nuh mencerminkan tradisi Islam dalam menafsirkan kisah-kisah Al-Qur’an. Kisah ini dipahami sebagai peristiwa sejarah sekaligus pelajaran moral. Miniatur tersebut menekankan unsur keselamatan dan ketundukan pada perintah Tuhan. Representasi visualnya mengikuti konvensi artistik Persia. Hal ini menunjukkan harmonisasi antara iman dan seni.
Dalam konteks istana Timurid, ilustrasi sejarah memiliki fungsi ideologis. Kisah-kisah masa lalu dijadikan cermin bagi kekuasaan masa kini. Bahtera Nuh dapat dimaknai sebagai simbol kepemimpinan yang menyelamatkan umat. Dengan demikian, seni berperan dalam legitimasi politik. Historiografi visual menjadi alat komunikasi kekuasaan.
Majmaʿ al-tawarikh juga menunjukkan perkembangan metodologi sejarah pada abad ke-15. Hafiz-i Abru mengompilasi berbagai sumber sebelumnya. Ia menyusunnya dalam kerangka naratif yang koheren. Pendekatan kompilatif ini umum dalam historiografi Islam. Namun, kekuatan karyanya terletak pada sistematisasi dan visualisasi.
Perpaduan teks dan miniatur menjadikan karya ini bernilai tinggi secara artistik dan ilmiah. Manuskrip-manuskripnya menjadi objek studi para sejarawan dan sejarawan seni. Miniatur Bahtera Nuh adalah salah satu contoh paling dikenal. Ia merepresentasikan puncak seni buku Persia. Karya ini terus dikaji hingga masa modern.
Hafiz-i Abru menempati posisi penting dalam sejarah intelektual Islam Persia. Ia menjembatani tradisi historiografi klasik dengan kebutuhan politik dinasti Timuriyah. Karyanya memperlihatkan bagaimana sejarah ditulis dalam konteks kekuasaan. Seni miniatur memperkuat pesan sejarah tersebut. Dengan demikian, sejarah, seni, dan politik saling berkaitan erat.
Secara keseluruhan, miniatur “Bahtera Nabi Nuh” dalam Majmaʿ al-tawarikh mencerminkan kekayaan tradisi historiografi Persia. Karya Hafiz-i Abru menunjukkan peran sejarawan sebagai penulis, kompilator, dan intelektual istana. Ilustrasi sejarah memperluas cara memahami masa lalu. Warisan ini tetap relevan bagi studi sejarah dan seni Islam. Oleh karena itu, Hafiz-i Abru layak dikenang sebagai tokoh kunci historiografi Timurid.
Referensi
Hafiz-i Abru, Majmaʿ al-tawarikh, abad ke-15.
Biografi Hafiz-i Abru (w. 1430), sumber sejarah Timurid.
Kajian tentang historiografi dan seni miniatur Persia periode Timurid.
Studi tentang peran sejarawan istana dalam Dinasti Timuriyah.
