Manuskrip Al-Qur’an Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan

Manuskrip yang ditampilkan merupakan bagian dari mushaf Al-Qur’an tulisan tangan yang secara kuat merepresentasikan tradisi penyalinan dan pengajaran Al-Qur’an di lingkungan pesantren Nusantara, khususnya yang dikaitkan dengan Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Halaman ini memuat Surah An-Nas (QS. 114) lengkap dengan basmalah dan ayat-ayatnya, yang disusun dalam sebuah bingkai persegi panjang dengan pembagian baris yang rapi dan sistematis. Pada bagian atas (header), terdapat keterangan mengenai surah yang ditulis menggunakan kombinasi tinta hitam dan merah, yang lazim digunakan dalam manuskrip klasik untuk membedakan antara teks utama dan informasi tambahan. Penggunaan tinta merah juga berfungsi sebagai penanda visual penting, seperti judul surah dan elemen struktural lainnya, sehingga memudahkan pembaca dalam menavigasi teks.

Dari segi paleografi, tulisan utama menggunakan khat naskhi sederhana yang bersifat fungsional dan mudah dibaca, menunjukkan bahwa manuskrip ini tidak hanya dibuat untuk keindahan, tetapi juga untuk kepentingan pembelajaran. Hal ini semakin diperkuat dengan adanya catatan-catatan kecil di sela-sela teks utama serta pada bagian pinggir (marginalia), yang diduga berisi penjelasan, tafsir ringkas, atau panduan bacaan. Tulisan marginal ini cenderung lebih kecil dan cepat, mengindikasikan bahwa manuskrip tersebut digunakan secara aktif dalam proses pengajaran, bukan sekadar disimpan sebagai koleksi.

Bagian bawah halaman menampilkan bentuk bidang menyerupai trapesium atau segi lima yang kemungkinan berfungsi sebagai kolofon, yaitu bagian yang memuat informasi tentang penyalinan naskah, doa khatmil Qur’an, atau identitas penyalin. Keberadaan elemen ini menunjukkan bahwa manuskrip tersebut memiliki dimensi spiritual sekaligus dokumentatif. Dari aspek material, kertas yang digunakan tampak berwarna kecoklatan akibat proses penuaan alami, yang mengindikasikan usia naskah yang cukup tua. Tinta hitam yang digunakan untuk teks utama serta tinta merah untuk penanda menunjukkan teknik penulisan tradisional yang umum digunakan pada abad ke-18 hingga ke-19.

Secara keseluruhan, manuskrip ini tidak hanya berfungsi sebagai mushaf Al-Qur’an, tetapi juga sebagai media pembelajaran dan transmisi keilmuan Islam di Nusantara. Kehadiran catatan tambahan dan struktur penulisan yang sistematis mencerminkan tradisi intelektual pesantren yang mengintegrasikan teks suci dengan penjelasan kontekstual. Oleh karena itu, manuskrip ini memiliki nilai filologis, historis, dan kultural yang sangat tinggi, sekaligus menjadi bukti nyata bagaimana ulama seperti Syaikhona Muhammad Kholil berperan dalam menjaga, mengajarkan, dan mewariskan ilmu Al-Qur’an kepada generasi berikutnya.

Referensi

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana, 2013.

Drewes, G.W.J., dan L.F. Brakel. The Admonitions of Seh Bari: A 16th Century Javanese Muslim Text Attributed to the Saint of Bonang. The Hague: Martinus Nijhoff, 1986.

Fathurahman, Oman. Filologi Indonesia: Teori dan Metode. Jakarta: Prenadamedia Group, 2015.

Gallop, Annabel Teh. The Art of the Qur’an in Southeast Asia. London: The British Library, 2018.

Gacek, Adam. Arabic Manuscripts: A Vademecum for Readers. Leiden: Brill, 2009.

Johns, A.H. “Qur’anic Exegesis in the Malay World: In Search of a Profile.” Indonesia Circle, No. 47, 1988.

Ricklefs, M.C. Islamisation and Its Opponents in Java: A Political, Social, Cultural and Religious History, c. 1930 to Present. Singapore: NUS Press, 2012.

Robson, Stuart. Principles of Indonesian Philology. Dordrecht: Foris Publications, 1988.

Voorhoeve, P. Handlist of Indonesian Manuscripts in the Library of the University of Leiden and Other Collections in the Netherlands. Leiden: Leiden University Press, 1977.

Skriptoria

Writer & Blogger

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ARTIKEL LAINNYA

No Posts Found!

©Copyright Skriptoria Ahliney Manuskrip | Develop By Webskill.id