Surat yang dikeluarkan oleh Sultan Ahmed III pada awal abad ke-18 merupakan bukti penting praktik diplomasi Kekaisaran Ottoman. Dokumen tersebut menugaskan Nicola Danal Spiro sebagai dragoman bagi Thomas Funck, utusan Swedia di istana Ottoman. Penugasan ini mencerminkan kompleksitas hubungan diplomatik antara Ottoman dan kerajaan-kerajaan Eropa. Keberadaan surat ini juga menunjukkan pengakuan resmi negara terhadap profesi dragoman. Arsip Nasional Swedia menyimpan dokumen ini sebagai sumber sejarah diplomasi lintas budaya.
Dragoman memiliki peran sentral dalam hubungan internasional Ottoman dengan dunia Eropa. Mereka berfungsi sebagai penerjemah, penafsir, dan perantara resmi dalam komunikasi politik maupun perdagangan. Tugas ini menuntut kecakapan linguistik yang sangat tinggi. Seorang dragoman harus menguasai bahasa Arab, Persia, Turki, serta beberapa bahasa Eropa. Dengan kemampuan tersebut, dragoman menjadi jembatan antara dua dunia yang berbeda secara budaya dan agama.
Wilayah kerja dragoman mencakup kawasan Timur Tengah yang multibahasa dan multietnis. Dalam konteks ini, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga instrumen kekuasaan. Kesalahan terjemahan dapat berdampak besar pada hubungan diplomatik. Oleh karena itu, posisi dragoman menuntut kepercayaan tinggi dari penguasa Ottoman. Profesionalisme mereka menjadi faktor kunci dalam stabilitas hubungan internasional.
Di dalam Kekaisaran Ottoman, komunitas Yunani Ottoman mendominasi profesi dragoman. Mereka dikenal memiliki tradisi pendidikan multibahasa yang kuat. Selain itu, keterlibatan aktif mereka dalam perdagangan regional memperluas jaringan sosial dan politik. Kemampuan ini membuat mereka sangat dibutuhkan oleh negara. Akibatnya, banyak posisi dragoman strategis dipegang oleh etnis Yunani.
Selain Yunani Ottoman, kelompok lain juga terlibat sebagai dragoman. Orang Armenia, khususnya yang memiliki latar belakang komersial, sering mengisi peran ini. Mereka memiliki akses luas ke jaringan perdagangan internasional. Meskipun jumlahnya lebih sedikit, kontribusi mereka tetap signifikan. Keanekaragaman etnis ini mencerminkan sifat kosmopolitan Kekaisaran Ottoman.
Kemunculan dragoman sebagai institusi resmi tidak terlepas dari sikap sosial-keagamaan Muslim Ottoman. Banyak elite Muslim enggan mempelajari bahasa non-Muslim. Akibatnya, kebutuhan akan perantara linguistik menjadi semakin mendesak. Dragoman mengisi kekosongan tersebut secara sistematis. Dengan demikian, profesi ini berkembang sebagai solusi struktural dalam birokrasi Ottoman.
Dragoman kekaisaran pertama yang tercatat dalam sejarah adalah Lutfi Pasha. Ia dikirim ke Venesia pada tahun 1479 dalam misi diplomatik penting. Tugasnya mencakup penerjemahan sekaligus negosiasi politik. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, peran dragoman bersifat ganda. Fungsi linguistik dan diplomatik berjalan secara bersamaan.
Dalam perjalanan waktu, jabatan dragoman semakin bergengsi. Tokoh-tokoh seperti Panagiotis Nikousios dan Alexander Mavrocordatos menjadi simbol dominasi Yunani dalam birokrasi diplomatik Ottoman. Mereka memiliki pengaruh besar dalam kebijakan luar negeri. Kedudukan mereka sering kali melampaui fungsi teknis penerjemahan. Dragoman menjadi aktor politik yang signifikan.
Dominasi Yunani dalam jabatan dragoman berakhir secara dramatis pada awal abad ke-19. Pecahnya Perang Kemerdekaan Yunani pada tahun 1821 mengguncang kepercayaan Ottoman. Konstantinus Mourouzi, kepala dragoman saat itu, dieksekusi karena tuduhan pengkhianatan. Penggantinya pun diasingkan. Peristiwa ini menandai perubahan besar dalam struktur birokrasi Ottoman.
Setelah peristiwa tersebut, Ishak Efendi diangkat sebagai dragoman. Ia merupakan seorang Muslim dan instruktur angkatan laut. Pengangkatannya menandai pergeseran etnis dan agama dalam jabatan tersebut. Ishak Efendi berperan penting dalam penerjemahan karya ilmiah Barat. Ia juga menciptakan terminologi baru dalam bahasa Turki.
Peran Ishak Efendi membuka jalan bagi modernisasi intelektual Ottoman. Penerjemahan ilmu pengetahuan Barat menjadi bagian dari reformasi negara. Bahasa Turki diperkaya dengan istilah ilmiah modern. Hal ini meningkatkan kapasitas administrasi dan pendidikan. Dragoman tidak lagi sekadar penerjemah diplomatik, tetapi juga agen transformasi ilmu.
Pembentukan Kantor Penerjemahan (Tercüme Odası) memperkuat peran ini secara institusional. Lembaga tersebut menjadi pusat inovasi selama reformasi Tanzimat. Ia bersaing dengan jalur militer dan keagamaan sebagai sarana mobilitas sosial. Banyak pejabat reformis berasal dari lingkungan ini. Dengan demikian, bahasa menjadi alat kemajuan politik.
Selain Yunani dan Armenia, banyak dragoman berasal dari komunitas Yahudi. Mereka dikenal memiliki keterampilan linguistik yang tinggi. Negara memberikan pembebasan pajak kepada mereka sebagai bentuk penghargaan. Namun, kebijakan ini menimbulkan perdebatan hukum internal. Komunitas Yahudi mempertanyakan kewajiban pajak kolektif mereka.
Banyak penguasa Phanariote di Moldavia dan Wallachia memulai karier sebagai dragoman Ottoman. Jabatan ini menjadi batu loncatan menuju kekuasaan regional. Namun, tidak sedikit dari mereka yang kemudian terlibat konspirasi anti-Ottoman. Fenomena ini menunjukkan ambiguitas loyalitas politik dragoman. Kedudukan mereka berada di antara kekuasaan dan resistensi.
Secara keseluruhan, dragoman memainkan peran vital dalam sejarah diplomasi Ottoman. Mereka menghubungkan dunia Islam dan Kristen melalui bahasa dan negosiasi. Profesi ini mencerminkan dinamika multikultural kekaisaran. Perubahan dalam komposisi dragoman mencerminkan perubahan politik yang lebih luas. Dengan demikian, studi tentang dragoman membuka pemahaman mendalam tentang transformasi Kekaisaran Ottoman.
Referensi
Arsip Nasional Swedia, Surat Sultan Ahmed III kepada Thomas Funck mengenai penunjukan Nicola Danal Spiro sebagai dragoman.
Carter V. Findley, Bureaucratic Reform in the Ottoman Empire: The Sublime Porte, 1789–1922.
Khaled Fahmy, kajian tentang Tercüme Odası dan reformasi Tanzimat.
Stanford J. Shaw & Ezel Kural Shaw, History of the Ottoman Empire and Modern Turkey.
Suraiya Faroqhi, The Ottoman Empire and the World Around It, I.B. Tauris.
