Perwakilan 17 Desa Kawasan Transmigrasi Mangoli, Praktek Budidaya Tanaman Kakao dan Pengendalian Hama Alami

Sanana, Kepulauan Sula – Sebanyak 17 perwakilan desa dari Kawasan Transmigrasi Mangoli, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, mengikuti kegiatan Workshop & Fieldtrip Best Practice yang difokuskan pada pembelajaran budidaya tanaman kakao dan pengendalian hamanya di perkebunan dan pengolahan coklat Sulamina. Kegiatan ini dilaksanakan pada 10–13 November 2025, sebagai bagian dari program penguatan ekonomi masyarakat transmigrasi. Para peserta terdiri dari perangkat desa dan penyuluh pertanian yang berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah mereka. Acara ini diinisiasi oleh Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI) Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Daerah kabupaten Kepulauan Sula. Tujuannya adalah membangun ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi berbasis potensi lokal desa transmigrasi.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta mendapatkan materi langsung dari pakar pertanian dan praktisi kakao yang berpengalaman di bidang agribisnis, Peter Lugtigheid. Mereka mempelajari teknik pembibitan kakao unggul, pemangkasan cabang produktif, serta perawatan pascapanen untuk menjaga kualitas biji kakao. Selain itu, para peserta juga berkesempatan mengunjungi salah satu kebun kakao produktif di Sula sebagai bagian dari sesi fieldtrip. Dalam kunjungan tersebut, peserta melihat langsung praktik budidaya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pendekatan learning by doing ini diharapkan dapat mempercepat transfer pengetahuan ke tingkat desa.

Menurut Ketua TEP UI, kegiatan ini dirancang agar para petani tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu mengimplementasikan langsung di lahan mereka. Setiap peserta diwajibkan membuat rencana aksi desa untuk pengembangan kebun kakao secara berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, mereka juga belajar mengenali jenis hama utama seperti penggerek buah kakao dan kutu putih. Para peserta kemudian diajarkan cara membuat pestisida nabati menggunakan bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar desa. Dengan pendekatan lokal ini, diharapkan ketergantungan terhadap pestisida kimia dapat dikurangi.

Para peserta mengaku antusias mengikuti pelatihan ini karena selama ini banyak petani kehilangan hasil panen akibat serangan hama. Mereka menyebutkan bahwa teknik pengendalian terpadu yang diajarkan sangat relevan dengan kondisi lahan di Mangoli. Selain belajar secara teori, para petani juga mempraktikkan cara memasang perangkap hama menggunakan feromon alami. Mereka dilatih untuk menjaga keseimbangan ekosistem kebun dengan cara mengundang serangga predator alami. Pendekatan ekologi ini menjadi strategi penting dalam menjaga produktivitas jangka panjang.

TEP UI menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program Best Practice nasional dalam pengembangan kawasan transmigrasi berbasis potensi daerah. Menurut Ketua Tim, penguatan kapasitas petani kakao menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi di wilayah timur Indonesia. Kakao dipilih karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat tumbuh optimal di lahan-lahan transmigrasi. Tim berharap, dengan meningkatnya keterampilan petani, kawasan transmigrasi dapat menjadi sentra baru penghasil kakao nasional. Kolaborasi akademisi dan pemerintah diharapkan menjadi model sukses pengembangan wilayah berbasis riset dan praktik lapangan.

Skriptoria

Writer & Blogger

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ARTIKEL LAINNYA
  • All Posts
  • Berita

©Copyright Skriptoria Ahliney Manuskrip | Develop By Webskill.id