Manuskrip kuno bukan sekadar lembaran tua yang dipenuhi aksara kuno, melainkan rekaman perjalanan intelektual, budaya, dan peradaban suatu bangsa. Di dalamnya tersimpan pengetahuan tentang agama, sastra, hukum, pengobatan, astronomi, hingga kehidupan sosial masyarakat pada masa lampau. Sayangnya, tidak semua manuskrip Indonesia saat ini berada di tanah air. Sebagian besar justru tersimpan di berbagai perpustakaan dan museum di luar negeri sebagai hasil dari perjalanan sejarah yang panjang. Salah satu koleksi terpenting berada di Staatsbibliothek zu Berlin (STABI), Jerman, yang menjadi fokus kajian dalam artikel “Indonesian Manuscripts at Staatsbibliothek zu Berlin: A Codicological Review” karya Titik Pudjiastuti.
Artikel tersebut mengkaji koleksi manuskrip Indonesia di STABI menggunakan pendekatan kodikologi, yaitu cabang ilmu yang mempelajari manuskrip sebagai benda fisik. Berbeda dengan filologi yang lebih menitikberatkan isi teks, kodikologi meneliti bahan penulisan, bentuk naskah, jenis aksara, iluminasi, kolofon, hingga sejarah kepemilikannya. Pendekatan ini memungkinkan para peneliti memahami perjalanan sebuah manuskrip sejak pertama kali dibuat hingga akhirnya berada di sebuah perpustakaan modern. Melalui kajian tersebut, manuskrip tidak lagi dipandang hanya sebagai media penyimpan teks, tetapi juga sebagai artefak budaya yang memiliki riwayat hidup.
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah jumlah manuskrip Indonesia yang tersimpan di STABI ternyata mencapai 668 naskah, bukan sekitar 800 seperti perkiraan sebelumnya. Koleksi tersebut berasal dari berbagai wilayah di Nusantara, seperti Jawa, Bali, Batak, Lampung, Bugis-Makassar, Sunda, Lombok, hingga kawasan Melayu. Keberagaman asal tersebut menunjukkan bahwa tradisi tulis berkembang secara luas di berbagai daerah Indonesia dengan karakteristik masing-masing. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa Indonesia memiliki warisan literasi yang jauh lebih kaya daripada yang selama ini dipahami masyarakat umum. Temuan tersebut diperoleh melalui proses identifikasi ulang terhadap seluruh koleksi yang tersimpan di perpustakaan tersebut.
Keanekaragaman koleksi STABI juga terlihat dari bahasa dan aksara yang digunakan. Manuskrip-manuskrip tersebut ditulis menggunakan bahasa Jawa, Bali, Melayu, Batak, Bugis, Makassar, Lampung, Sunda, hingga Sasak. Sementara itu, aksara yang ditemukan meliputi Hanacaraka, Jawi, Pegon, Lontara, Kaganga, Batak, Balinese, Jejawan, bahkan beberapa manuskrip memadukan lebih dari satu sistem tulisan dalam satu naskah. Keragaman ini mencerminkan tingginya kemampuan adaptasi masyarakat Nusantara terhadap berbagai tradisi intelektual dan budaya yang berkembang selama berabad-abad. Keberadaan banyak sistem aksara tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia sejak lama merupakan ruang perjumpaan berbagai kebudayaan dunia.
Isi manuskrip yang tersimpan di STABI pun sangat beragam. Tidak hanya memuat kisah keagamaan Islam maupun Hindu, koleksi tersebut juga mencakup cerita Panji, babad, hikayat, primbon, ilmu pengobatan tradisional, mantra, hukum adat, silsilah keluarga, kalender, hingga pengetahuan mengenai pertanian dan kerajinan. Variasi tema ini memperlihatkan bahwa manuskrip merupakan media penyebaran ilmu pengetahuan yang sangat penting pada masa lalu. Melalui manuskrip, masyarakat mewariskan pengalaman hidup, nilai budaya, dan pengetahuan praktis kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu, manuskrip dapat dipandang sebagai perpustakaan hidup masyarakat Nusantara sebelum hadirnya teknologi percetakan modern.
Selain isi teksnya, penelitian ini menunjukkan bahwa bahan penulisan manuskrip Indonesia juga sangat beragam. Sebagian besar dibuat di atas kertas Eropa, tetapi banyak pula yang menggunakan dluwang, lontar, bambu, pustaha Batak, embat-embatan, hingga pelat logam. Variasi bahan tersebut mencerminkan kemampuan masyarakat lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam sesuai kondisi geografis masing-masing daerah. Setiap media memiliki teknik pembuatan, penyimpanan, serta tingkat ketahanan yang berbeda sehingga menjadi objek kajian penting dalam konservasi manuskrip. Informasi semacam ini sangat berguna bagi para konservator dalam menentukan metode pelestarian yang tepat.
Kajian kodikologi juga menyoroti unsur-unsur artistik dalam manuskrip, seperti iluminasi dan kolofon. Iluminasi bukan hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga menunjukkan identitas budaya, status sosial, bahkan tradisi estetik suatu daerah. Sementara itu, kolofon menyimpan informasi mengenai penulis, penyalin, tempat penyalinan, tanggal penulisan, hingga tujuan penyusunan naskah. Dari kolofon diketahui bahwa manuskrip tertua di STABI berasal dari awal abad ke-15, sedangkan manuskrip termuda berasal dari awal abad ke-20. Temuan tersebut membantu para peneliti menyusun kronologi perkembangan tradisi tulis di Indonesia secara lebih akurat.
Menariknya, kondisi fisik sebagian besar manuskrip di STABI masih sangat baik. Dari seluruh koleksi, hanya sekitar 55 manuskrip yang mengalami kerusakan, baik ringan maupun berat. Kondisi ini menunjukkan bahwa perpustakaan tersebut telah menerapkan sistem konservasi yang relatif efektif selama bertahun-tahun. Pelestarian fisik manuskrip menjadi aspek yang sangat penting karena kerusakan sekecil apa pun dapat menghilangkan informasi sejarah yang tidak mungkin digantikan. Upaya konservasi modern memungkinkan manuskrip tetap dapat dipelajari tanpa harus sering disentuh secara langsung melalui proses digitalisasi berkualitas tinggi.
Artikel ini juga mengungkap perjalanan panjang bagaimana manuskrip-manuskrip Indonesia dapat berada di Berlin. Sebagian diperoleh melalui pembelian, sebagian berasal dari hadiah individu maupun lembaga, dan sebagian lainnya merupakan koleksi para orientalis, peneliti, pejabat kolonial, maupun kolektor Eropa pada abad ke-19. Nama-nama seperti John Crawfurd, August Wilhelm von Schlegel, Phillip Wilhelm Adolf Bastian, dan Friedrich Seltmann menjadi bagian dari sejarah perpindahan manuskrip tersebut. Kisah ini memperlihatkan bahwa mobilitas manuskrip sangat erat kaitannya dengan kolonialisme, perdagangan, penelitian ilmiah, dan hubungan antarbangsa. Dengan memahami sejarah koleksinya, kita dapat melihat manuskrip bukan sekadar benda budaya, melainkan saksi perjalanan global pengetahuan Nusantara.
Pada akhirnya, penelitian Titik Pudjiastuti memberikan kontribusi besar bagi studi filologi dan kodikologi Indonesia. Kajian ini memperlihatkan bahwa manuskrip Indonesia di luar negeri bukan sekadar koleksi museum, melainkan sumber informasi yang sangat penting untuk memahami sejarah intelektual Nusantara. Data mengenai jumlah koleksi, asal-usul, bahasa, aksara, bahan, kondisi fisik, hingga sejarah perolehannya membuka peluang penelitian lanjutan yang lebih luas. Di era digital saat ini, hasil penelitian semacam ini juga menjadi dasar bagi pengembangan digital humanities agar manuskrip Indonesia dapat diakses oleh masyarakat dunia tanpa mengurangi kelestarian fisiknya. Dengan demikian, manuskrip Indonesia di Staatsbibliothek zu Berlin bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian budaya, dan identitas bangsa pada masa depan.
Referensi
- Pudjiastuti, T. (2023). Indonesian Manuscripts at Staatsbibliothek zu Berlin: A Codicological Review. KEMANUSIAAN: The Asian Journal of Humanities, 30(2), 21–38. https://doi.org/10.21315/kajh2023.30.2.2
