Bayangkan sebuah perpustakaan memiliki ribuan manuskrip yang telah didigitalisasi. Koleksi tersebut memang sudah tersedia dalam bentuk gambar digital, tetapi muncul persoalan baru: bagaimana agar gambar-gambar itu dapat ditampilkan, dibagikan, dibandingkan, dan digunakan oleh berbagai platform tanpa harus membuat sistem yang berbeda untuk setiap institusi? IIIF (International Image Interoperability Framework) hadir untuk menjawab persoalan tersebut. IIIF merupakan seperangkat standar terbuka yang memungkinkan institusi budaya seperti perpustakaan, museum, arsip, dan universitas mengelola serta menyajikan gambar digital secara lebih terstruktur dan interoperabel.
Dalam konteks manuskrip kuno, IIIF sangat menarik karena tidak sekadar berfungsi sebagai tempat menyimpan gambar. Ia memungkinkan sebuah citra manuskrip beresolusi tinggi diakses melalui jaringan dengan cara yang lebih fleksibel. Peneliti dapat memperbesar detail aksara, melihat halaman tertentu, memotong bagian gambar, atau menampilkan beberapa manuskrip dari institusi berbeda dalam satu lingkungan aplikasi. Dengan demikian, koleksi yang sebelumnya tersebar di berbagai situs dapat “berbicara” satu sama lain.
Konsep penting dalam IIIF adalah interoperabilitas. Sederhananya, data dari satu institusi dapat digunakan oleh aplikasi atau platform lain selama mengikuti standar IIIF. Peneliti tidak harus bergantung pada satu viewer tertentu untuk melihat koleksi. Sebuah manuskrip dari perpustakaan A dapat dibandingkan dengan manuskrip dari perpustakaan B menggunakan aplikasi yang sama, meskipun kedua koleksi tersebut dikelola oleh institusi yang berbeda.
Salah satu komponen penting IIIF adalah Image API. Komponen ini memungkinkan pengguna meminta bagian tertentu dari sebuah gambar dengan ukuran atau tingkat resolusi yang diinginkan. Misalnya, dari satu halaman manuskrip beresolusi sangat tinggi, peneliti dapat menampilkan hanya bagian kolofon atau iluminasi tertentu tanpa harus mengunduh keseluruhan gambar. Kemampuan semacam ini sangat berguna untuk penelitian paleografi, kodikologi, iluminasi, dan analisis material manuskrip.
Komponen lainnya adalah Presentation API, yang digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana sebuah objek digital—misalnya satu manuskrip yang terdiri atas ratusan halaman—harus disajikan. Informasi seperti urutan halaman, judul, metadata, bahasa, struktur bagian, dan hubungan antarhalaman dapat direpresentasikan secara terstruktur. Bagi peneliti, hal ini membuat manuskrip digital tidak sekadar menjadi kumpulan file gambar, tetapi sebuah objek penelitian yang memiliki struktur dan konteks.
IIIF juga membuka peluang besar untuk perbandingan manuskrip. Bayangkan seorang filolog sedang membandingkan dua salinan teks yang tersimpan di Jakarta dan London. Dengan viewer yang mendukung IIIF, kedua manuskrip dapat ditampilkan berdampingan sehingga peneliti dapat mengamati perbedaan aksara, iluminasi, tata letak, maupun kondisi fisiknya. Teknologi ini membuat penelitian komparatif dapat dilakukan tanpa harus membawa manuskrip asli dari satu tempat ke tempat lain.
Dalam ekosistem Digital Humanities, IIIF dapat ditempatkan sebagai salah satu fondasi setelah proses digitalisasi. Manuskrip terlebih dahulu difoto atau dipindai menggunakan perangkat seperti ScanTent, kemudian gambar dan metadata dikelola dalam repositori digital. Dengan IIIF, koleksi tersebut dapat disajikan melalui viewer seperti Mirador atau viewer lain yang kompatibel. Selanjutnya, gambar manuskrip dapat dihubungkan dengan transkripsi, anotasi, hasil HTR dari Transkribus atau eScriptorium, hingga penelitian kolaboratif.
Yang membuat IIIF semakin menarik adalah dukungannya terhadap anotasi digital. Peneliti dapat memberikan anotasi pada bagian tertentu dari sebuah halaman, misalnya menandai kolofon, iluminasi, marginalia, cap kepemilikan, atau bagian teks tertentu. Anotasi tersebut dapat dikaitkan dengan informasi tambahan sehingga gambar manuskrip menjadi lebih kaya sebagai sumber data penelitian.
Bagi perpustakaan dan lembaga kebudayaan, penerapan IIIF juga memberikan keuntungan jangka panjang. Institusi tidak perlu membuat seluruh teknologi dari awal karena dapat memanfaatkan berbagai aplikasi yang telah mendukung standar tersebut. Koleksi menjadi lebih mudah ditemukan, digunakan kembali, dan diintegrasikan dengan proyek penelitian lain. Pada akhirnya, nilai sebuah koleksi digital tidak hanya ditentukan oleh jumlah manuskrip yang berhasil dipindai, tetapi juga oleh seberapa mudah koleksi tersebut digunakan kembali oleh komunitas ilmiah.
Bagi penelitian manuskrip Nusantara, potensi IIIF sangat besar. Koleksi Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, Bali, Jawi, maupun berbagai tradisi manuskrip lainnya dapat dihubungkan dengan koleksi yang tersebar di perpustakaan dan museum dunia. Peneliti kemudian dapat membandingkan manuskrip tanpa terhalang batas geografis, sekaligus membangun penelitian kolaboratif lintas institusi.
Pada akhirnya, IIIF bukan sekadar teknologi untuk menampilkan gambar manuskrip. Ia merupakan sebuah bahasa bersama yang memungkinkan koleksi digital dari berbagai institusi saling terhubung. Dalam dunia filologi dan Digital Humanities, kemampuan tersebut mengubah cara kita berinteraksi dengan sumber primer: dari koleksi yang terpisah-pisah menjadi jaringan pengetahuan yang dapat diakses, dibandingkan, dianotasi, dan dikembangkan bersama. Dengan IIIF, manuskrip yang tersimpan di ruang koleksi dapat hadir dalam percakapan ilmiah global tanpa harus meninggalkan tempat penyimpanannya.
