The 1st Islamic Immersive Experience Wisma Habibie Ainun

 

Ada tempat yang kita datangi untuk melihat bangunan, ada pula tempat yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berbeda. Bagi saya, mengikuti The 1st Islamic Immersive Experience di Wisma Habibie Ainun bukan sekadar kunjungan ke sebuah rumah atau perpustakaan, melainkan perjalanan untuk membaca kembali kehidupan seorang manusia: tentang iman, ilmu, cinta, keluarga, karya, dan bagaimana semua itu dapat memberi makna bagi masa depan.

Ada sesuatu yang ingin ditemukan, bukan dalam bentuk benda, tetapi dalam bentuk makna. Sebab, belajar dari masa lalu bukan berarti hidup di masa lalu. Justru dengan memahami apa yang telah dilakukan orang-orang sebelumnya, kita dapat menemukan inspirasi untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna. Dalam perjalanan ini, salah satu ayat yang terus terngiang adalah QS Al-Ahqaf [46]:15, tentang manusia, orang tua, rasa syukur, dan perjalanan kehidupan menuju kedewasaan.

Wisma Habibie Ainun memperlihatkan bahwa rumah dapat menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal. Di dalamnya terdapat jejak pemikiran, kebiasaan, percakapan, doa, makanan, buku, karya seni, hingga kenangan antara B.J. Habibie dan Ainun.

Bahkan tanah tempat kawasan ini berdiri memiliki cerita tersendiri. Dari tempat itulah kemudian tumbuh sebuah ruang yang tidak hanya menyimpan kenangan keluarga Habibie, tetapi juga gagasan tentang bagaimana ilmu, agama, teknologi, dan kebudayaan seharusnya berjalan bersama.

Di kawasan ini terdapat Taman Intelektual, sebuah ruang yang mempertemukan aktivitas fisik dengan aktivitas berpikir. Pesannya sederhana tetapi kuat: manusia tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga tubuh yang sehat dan kehidupan yang seimbang.

Sosok Alwi Abdul Jalil Habibie (Ayah Presiden Habibie) juga menjadi bagian dari cerita keluarga yang menginspirasi. Ia dikenang sebagai sosok yang menjadi semacam mata air—sumber nilai dan teladan yang kemudian mengalir kepada generasi berikutnya.

Iqra, Sang Pemantik Intelektual

Salah satu gagasan menarik yang muncul dalam perjalanan ini adalah konsep “Iqra”. Membaca tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas melihat huruf dan menyusun kata, tetapi sebagai perintah untuk membaca kehidupan.

Karena itu, simbol intelektual di kawasan ini bukan sekadar ornamen. Ada patung The Thinker karya Agus Rudank yang mengingatkan bahwa manusia memiliki tugas untuk berpikir. Bahkan konsepnya sejak awal berkaitan dengan semangat Iqra: membaca, memahami, merenungkan, lalu menghasilkan sesuatu.

Ada pula gagasan tentang sayap kiri dan sayap kanan. Keduanya harus seimbang agar manusia dapat terbang. Dalam kehidupan, sayap itu dapat dibaca sebagai perpaduan antara iman dan ilmu, antara spiritualitas dan intelektualitas, antara kecerdasan dan karakter.

Di sinilah muncul pemahaman penting: menjadi manusia berilmu bukan berarti hanya menguasai teknologi. Justru perpustakaan di Wisma Habibie Ainun lebih banyak berbicara tentang peradaban, bukan semata-mata teknologi.

Menariknya, perpustakaan ini disebut sebagai “Perpustakaan Peradaban”. Koleksinya tidak hanya merepresentasikan minat Habibie sebagai ahli teknologi dan penerbangan, tetapi juga memperlihatkan keluasan minatnya terhadap agama, sejarah, filsafat, budaya, dan kehidupan manusia.

Perpustakaan tersebut bahkan menjadi hadiah ulang tahun terakhir Habibie untuk Ainun pada 11 Agustus 2009. Karena itu, perpustakaan ini memiliki nilai emosional yang jauh lebih dalam daripada sekadar kumpulan buku. Di ruang ini, ada sebuah latihan yang menarik: membaca dengan mata tertutup. Pesannya adalah bahwa membaca tidak selalu berarti melihat. Ada pengetahuan yang harus dibaca dengan pikiran, dirasakan dengan hati, dan direnungkan melalui pengalaman.

Dari sini, muncul satu rumus yang sederhana tetapi mendalam: fakta → masalah → solusi. Kita tidak cukup hanya mengetahui fakta. Fakta harus melahirkan pertanyaan, masalah harus mendorong pencarian, dan pencarian harus menghasilkan solusi.

Berpikir sebagai Sebuah Karya

Gagasan tersebut terasa sangat dekat dengan sosok Habibie. Ia dikenal dengan cara berpikir yang sering dikaitkan dengan “Mr. Crack”, teori Habibie, dan persamaan yang dikembangkan untuk memahami struktur pesawat. Tetapi perjalanan ini justru memperlihatkan bahwa kemampuan berpikir Habibie tidak berhenti pada persoalan teknis. Berpikir sendiri dipandang sebagai sebuah karya. Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi, “Seberapa pintar kita?” melainkan: “Setelah berpikir, kontribusi apa yang kita berikan?”

Di sinilah konsep polymath menjadi menarik. Salah satu figur yang dibicarakan adalah Abbas Ibn Firnas, ilmuwan Muslim yang bereksperimen dengan penerbangan. Ia mengingatkan bahwa tradisi intelektual Islam memiliki sejarah panjang dalam menggabungkan berbagai bidang ilmu. Bahkan nama C235 “Tetuko” mengingatkan kita pada persilangan antara teknologi modern dan kebudayaan Nusantara. Tetuko merupakan nama kecil Gatotkaca. Teknologi, ternyata, tidak harus tercerabut dari akar budaya.

Namun ada satu benang merah yang terasa sangat kuat sepanjang perjalanan: apapun yang dilakukan harus dilandasi iman. Habibie, dalam cerita yang disampaikan, terbiasa menjalankan puasa Senin-Kamis bahkan ketika menjadi presiden. Ketika menghadapi kebuntuan, salah satu jalan yang ditempuh bukan sekadar mencari rumus atau berdiskusi, tetapi salat dua rakaat dan membaca Al-Qur’an.

Ada pula kisah Sigit, asisten pribadi yang mendampingi Habibie selama sekitar 30 tahun. Suatu ketika, sekitar pukul satu dini hari, Habibie terbangun dan mengatakan, “Saya punya ide.” Kalimat sederhana tersebut menggambarkan bagaimana gagasan dapat muncul kapan saja ketika seseorang terus membaca, berpikir, dan bekerja. Pada akhirnya, kecerdasan tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan iman sebagai arah.

Selasar, Tembok Anyaman, dan Kolam yang Terbelah

Setiap bagian kawasan ternyata memiliki cerita. Selasar dimaknai sebagai simbol iman dan takwa, sementara tembok anyaman menghadirkan identitas Indonesia melalui teknik dan estetika tradisional. Kemudian ada kolam yang terbelah, yang terinspirasi dari kisah Nabi Musa. Air yang terbelah menjadi simbol bahwa iman dan takwa dapat menjadi jalan yang mengantarkan manusia melewati sesuatu yang tampaknya mustahil.

Bahkan ikan di kolam bukan sekadar penghias. Jenis ikan yang dipilih adalah ikan yang memakan jentik nyamuk, sebuah contoh sederhana bahwa desain lingkungan juga dapat mempertimbangkan fungsi. Tanaman-tanaman yang berada di kawasan tersebut pun disebut dipilih oleh Ainun. Detail-detail kecil semacam ini membuat tempat tersebut terasa hidup: setiap ruang, tanaman, benda, dan susunan seolah memiliki alasan keberadaannya.

Seni, Al-Qur’an, dan Cara Melihat Kehidupan

Perjalanan ini juga mempertemukan pengunjung dengan karya seni. Salah satunya adalah karya Firdaus Kalmakhudi, yang menggunakan bulu ayam sebagai media berkarya. Seni kembali memperlihatkan bahwa manusia dapat menghasilkan sesuatu dari benda yang sederhana. Sama seperti ilmu: nilai sebuah karya tidak selalu ditentukan oleh bahan yang digunakan, tetapi oleh gagasan dan makna yang diberikan kepadanya.

Kemudian ada pembicaraan mengenai Quran Project, yang pernah dikenal dan disampaikan kepada Eyang. Semua itu kembali pada satu gagasan besar: Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk menghidupkan cara berpikir. QS Ali Imran [3]:190–191 menjadi salah satu landasan penting. Ayat tentang penciptaan langit dan bumi serta orang-orang yang berpikir mengarahkan kita pada hubungan antara fakta, perenungan, dan kesadaran. Maka, berpikir bukan aktivitas yang terpisah dari iman. Justru berpikir dapat menjadi jalan untuk mengenali kebesaran Allah.

Dalam perjalanan tersebut muncul tiga arah cinta yang menarik: cinta kepada Allah, cinta kepada manusia, dan cinta kepada karya manusia. Ketiganya saling berhubungan. Cinta kepada Allah melahirkan kesadaran spiritual. Cinta kepada manusia melahirkan kepedulian. Sedangkan cinta kepada karya manusia mendorong kita menghargai ilmu, kreativitas, dan peradaban.

Itulah sebabnya konsep “Selaras: Cita Rasa Karya” terasa relevan. Kehidupan tidak harus memilih antara agama dan ilmu, antara teknologi dan budaya, atau antara masa lalu dan masa depan. Semuanya dapat berjalan selaras.

Ramadan di Rumah Eyang Habibie

Salah satu bagian yang terasa paling manusiawi adalah cerita tentang Ramadan di rumah Eyang.

Ada cerita tentang gastronomi keluarga Habibie: es kelapa cincau, makanan manis yang disukai Ainun, serta kecenderungan Habibie terhadap rasa pedas dan pahit. Bahkan makanan seperti panda yang dipesan dari Sulawesi, bitebalen, bubur Manado dengan jagung yang banyak pada hari Jumat, soto Betawi, hingga coffee latte menjadi bagian dari pengalaman.

Hal-hal sederhana seperti makanan justru membuat sosok besar terasa dekat. Habibie bukan hanya nama besar dalam sejarah teknologi Indonesia. Ia adalah manusia yang memiliki selera, kebiasaan, keluarga, kenangan, dan kehidupan sehari-hari.

Bagian paling emosional dari perjalanan ini adalah kisah ketika Ainun berpulang. Ada lembaran-lembaran yang menggambarkan bagaimana Habibie mencurahkan isi hati setelah kehilangan kekasihnya. Di sana kita melihat sisi lain seorang manusia yang selama ini dikenal sebagai ilmuwan dan teknolog.

Habibie pernah mengenang bahwa selama 48 tahun 10 hari, kehidupannya bersama Ainun begitu indah. Ainun tiba-tiba pergi, tetapi bagi Allah, semuanya tetap berada dalam sebuah rencana. Pesan terakhir Ainun kepada Habibie begitu sederhana dan menyentuh: ketika merindukannya, lihat kembali foto-foto yang dibuat sejak mereka bertemu, kemudian setiap kali melihat foto itu, panjatkan doa.

Cinta ternyata tidak selalu berakhir ketika seseorang meninggalkan dunia. Ia dapat berubah menjadi kenangan, doa, dan karya. Dari sini diskusi kemudian bergerak ke pertanyaan yang jauh lebih besar: apa sebenarnya makna hidup?

Ceramah Habibie tentang ruh mengingatkan bahwa kehidupan manusia di dunia sangat singkat. Kita datang untuk memberikan makna kepada perjalanan yang terbatas. Pertanyaan tentang ruh, barzakh, dan kehidupan setelah kematian kemudian menjadi semacam pencarian intelektual sekaligus spiritual. Bahkan gagasan tentang super intelligent software menjadi pintu untuk bertanya: apakah kecerdasan buatan dapat memahami sesuatu yang paling mendasar dalam diri manusia?

Jawabannya mungkin belum selesai. Tetapi justru pertanyaan itulah yang membuat manusia terus berpikir. QS Ghafir [40]:16 juga membawa kita pada kesadaran tentang hari ketika manusia berdiri di hadapan Allah. Pada titik itu, seluruh gelar, jabatan, teknologi, dan pencapaian dunia kembali kepada pertanyaan paling mendasar: apa yang telah kita lakukan dengan kehidupan yang diberikan?

Satu gagasan lain yang menarik adalah bahwa pembebasan Makkah terjadi sekitar 22 tahun setelah turunnya perintah Iqra. Membaca, memahami, membangun kesadaran, kemudian mengubah kehidupan—semuanya membutuhkan proses.

Karena itu, perjalanan di Wisma Habibie Ainun terasa seperti sebuah ajakan untuk kembali kepada Iqra. Bukan hanya membaca buku, tetapi membaca alam, sejarah, manusia, teknologi, budaya, dan diri sendiri.

Ada pula kisah tentang ibunda Habibie, yang bertekad membesarkan anaknya agar berbakti kepada agama, nusa, dan bangsa. Nilai tersebut kemudian berkembang menjadi visi yang jauh lebih luas. Dalam konsep 5 Gen, misalnya, manusia ideal dibangun melalui lima kemampuan: entrepreneur, sport, science, art, dan social ability. Pendidikan tidak hanya menghasilkan orang pintar, tetapi manusia yang utuh.

Pada akhirnya, The 1st Islamic Immersive Experience ini membawa kami pada sebuah kesimpulan: Wisma Habibie Ainun bukan sekadar rumah. Ia adalah ruang tempat agama bertemu ilmu, teknologi bertemu budaya, pemikiran bertemu karya, dan kenangan bertemu masa depan. Di dalamnya terdapat pesan yang terus berulang: fakta harus dibaca, masalah harus dipikirkan, dan solusi harus diciptakan. Tetapi semua itu harus memiliki fondasi: iman.

Mungkin itulah mengapa perjalanan ini tidak berhenti pada kekaguman terhadap sosok Habibie. Justru ia mengembalikan kita kepada pertanyaan pribadi: Apa yang akan kita baca? Apa yang akan kita pikirkan? Apa yang akan kita ciptakan? Dan kontribusi apa yang akan kita tinggalkan? Karena pada akhirnya, berpikir adalah karya. Dan karya yang paling bermakna adalah karya yang memberi manfaat bagi manusia, bangsa, dan peradaban.

Bukan sekadar rumah, tetapi kisah inspirasi.
Bukan sekadar perpustakaan, tetapi miniatur peradaban.
Bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi belajar untuk menginspirasi masa depan.

Skriptoria

Writer & Blogger

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ARTIKEL LAINNYA

No Posts Found!

©Copyright Skriptoria Ahliney Manuskrip | Develop By Webskill.id