Jejak Nusantara di Tanah Ceylon: Kisah Manuskrip Melayu di Sri Lanka

Ada sebuah kisah menarik tentang bagaimana identitas budaya dapat bertahan jauh dari tanah asalnya. Kisah itu tersimpan dalam sebuah manuskrip Melayu yang ditulis di Colombo, Sri Lanka, pada awal abad ke-19. Manuskrip tersebut menjadi pintu masuk bagi Ronit Ricci untuk melihat kehidupan komunitas Muslim Melayu Sri Lanka, bukan sebagai kelompok yang terputus dari Nusantara, melainkan sebagai bagian dari jaringan pergerakan manusia, teks, bahasa, dan pengetahuan yang menghubungkan Asia Tenggara, India Selatan, Sri Lanka, dan dunia Arab. Melalui artikel “Asian and Islamic Crossings: Malay Writing in Nineteenth-Century Sri Lanka”, Ricci memperlihatkan bahwa manuskrip dapat menjadi semacam “peta” yang merekam perjalanan kebudayaan tanpa harus menggambarkan sebuah peta secara harfiah. Artikel ini diterbitkan dalam South Asian History and Culture, volume 5 nomor 2, tahun 2014, halaman 179–194.

Untuk memahami manuskrip tersebut, kita perlu terlebih dahulu melihat bagaimana komunitas Melayu terbentuk di Sri Lanka. Sejak akhir abad ke-17 hingga abad ke-18, VOC menggunakan Ceylon sebagai tempat pengasingan bagi orang-orang yang dianggap pemberontak dari wilayah yang mereka kuasai di kepulauan Indonesia. Selain para tahanan politik, terdapat pula kriminal, tentara pribumi, pelayan, dan pekerja yang dikirim ke Ceylon, kemudian Inggris melanjutkan mobilitas tersebut setelah mengambil alih pulau itu pada 1796. Banyak dari mereka bersama keluarga menetap di sekitar pusat-pusat militer seperti Colombo, Kandy, dan Trincomalee. Dari pertemuan orang-orang yang berasal dari Jawa, Sulawesi, Madura, dan wilayah Nusantara lainnya inilah kemudian berkembang komunitas yang dikenal sebagai Sri Lankan Malays.

Menariknya, keberadaan mereka sebagai kelompok diaspora tidak membuat hubungan dengan dunia Melayu terputus. Manuskrip dan buku yang diwariskan dalam keluarga-keluarga Melayu Sri Lanka memperlihatkan keterlibatan generasi terdahulu dengan teks-teks berbahasa Melayu dan Arab. Banyak di antaranya bercorak Islam, mulai dari risalah teologi, panduan salat dan ritual, hadis, hikayat, syair tentang tokoh-tokoh Islam, hingga tulisan mengenai tasawuf dan huruf Arab. Sebagian memiliki kemiripan dengan manuskrip yang kini tersimpan di Jakarta, Kuala Lumpur, atau Leiden, tetapi sebagian lainnya justru merekam pengalaman lokal masyarakat Muslim di Ceylon yang tidak ditemukan dalam tradisi Melayu di tempat lain. Dengan demikian, tradisi tulis mereka bukan sekadar menyalin warisan lama, tetapi juga menjadi ruang untuk membentuk pengalaman baru di lingkungan kolonial Sri Lanka.

Salah satu pertanyaan penting yang diajukan Ricci adalah mengapa bahasa Melayu kemudian menjadi bahasa utama dalam kehidupan tulis komunitas yang asal-usulnya sangat beragam. Orang-orang yang datang ke Ceylon tentu membawa bahasa masing-masing, seperti Jawa, Bugis, Madura, Sunda, dan bahasa lainnya. Namun, bahasa Melayu tampaknya berkembang sebagai sarana komunikasi lintas kelompok, salah satunya karena kedudukannya sebagai lingua franca perdagangan di Asia Tenggara. Sebagian orang yang kemudian ditempatkan di Ceylon juga sebelumnya telah hidup di Batavia dan kemungkinan telah menguasai Melayu Batavia. Karena itu, dominasi bahasa Melayu tidak dapat dipahami sebagai proses yang sederhana, tetapi sebagai hasil pertemuan berbagai latar sosial, etnis, politik, dan pengalaman migrasi.

Di sinilah manuskrip yang dikaji Ricci menjadi sangat penting. Manuskrip tersebut berukuran sekitar 21,2 × 16 × 3,2 sentimeter dan terdiri atas 270 halaman yang memuat teks dengan panjang dan kepengarangan berbeda-beda. Naskah ditulis oleh beberapa tangan dan mencatat tanggal antara 1803 hingga 1831, sehingga kemungkinan besar penyusunannya berlangsung selama hampir tiga dekade. Manuskrip tersebut diwariskan dalam keluarga B.D.K. Saldin di Dehiwala, sebuah kawasan di sekitar Colombo, meskipun asal-usul bagaimana manuskrip itu masuk ke dalam koleksi keluarga tersebut tidak diketahui secara pasti. Pemilik yang beberapa kali disebut dalam naskah adalah Enci Sulaiman ibn ‘Abd al-Jalil, yang menyatakan dirinya berasal dari Ujung Pandang, Makassar, dan memiliki garis keturunan dari Mas Haji ‘Abd Allah dari Mataram.

Informasi tentang Enci Sulaiman membuat manuskrip ini lebih dari sekadar kumpulan teks keagamaan. Di dalamnya terdapat jejak hubungan antara Makassar, Jawa, Mataram, Sri Lanka, dan dunia Islam yang lebih luas. Salah satu teks bahkan berkaitan dengan ‘ilm nafas, atau “ilmu napas”, yang oleh Ricci dipandang memiliki kedekatan dengan tradisi intelektual Jawa dan tidak lazim ditemukan dalam karya-karya Melayu klasik. Dari potongan informasi mengenai asal-usul, guru, teks, dan perjalanan tokoh-tokoh tersebut, kita dapat melihat bahwa perpindahan manusia membawa serta pengetahuan dan tradisi yang mereka miliki. Manuskrip dengan demikian berfungsi seperti arsip kecil yang menyimpan fragmen-fragmen perjalanan intelektual seseorang dan komunitasnya.

Isi manuskrip memperlihatkan betapa luas dunia intelektual komunitas Melayu Sri Lanka pada masa itu. Di dalamnya terdapat pembahasan tentang zikir, salat lima waktu, hubungan huruf Arab dengan waktu salat, nabi dan malaikat, sifat-sifat Tuhan, kehidupan setelah kematian, syahadat, tubuh manusia, kehamilan, pengetahuan esoteris, serta berbagai persoalan etika dan kehidupan keagamaan. Nama-nama ulama dan judul kitab yang disebut juga menghubungkan manuskrip ini dengan pusat-pusat intelektual Islam seperti Mekah, Madinah, Kairo, dan Damaskus. Sebagian teks dari dunia Arab telah lebih dahulu beredar di kepulauan Melayu melalui perjalanan haji dan aktivitas belajar para ulama Nusantara, lalu diterjemahkan atau ditafsirkan dalam bahasa lokal. Sri Lanka dalam konteks ini bukan sekadar tempat persinggahan, tetapi bagian dari jalur peredaran pengetahuan yang menghubungkan Asia Tenggara dan dunia Islam.

Hal yang paling menarik adalah sifat multibahasa manuskrip tersebut. Selain bahasa Melayu dan Arab, ditemukan pula Arabu-Tamil, yaitu bahasa Tamil yang ditulis menggunakan aksara Arab dan mengandung kosakata Arab, yang mencerminkan hubungan erat antara komunitas Melayu dan Muslim Tamil di Sri Lanka dan India Selatan. Lebih mengejutkan lagi, manuskrip tersebut memuat bagian-bagian berbahasa Jawa, termasuk sebuah puisi terkenal berjudul Kidung Rumeksa ing Wengi. Puisi ini secara tradisional dikaitkan dengan Sunan Kalijaga dan berisi doa atau kidung perlindungan dari berbagai bahaya, termasuk jin, setan, api, air, dan pencuri. Kehadiran teks tersebut menjadi bukti penting bahwa bahasa dan tradisi sastra Jawa masih memiliki tempat dalam kehidupan komunitas diaspora Melayu di Sri Lanka, meskipun mereka telah hidup jauh dari Jawa selama beberapa generasi.

Kidung Rumeksa ing Wengi juga memperlihatkan bahwa perpindahan teks tidak selalu menghasilkan salinan yang identik dengan versi asalnya. Dalam manuskrip Sri Lanka, terdapat sejumlah perubahan bentuk kata yang mungkin berkaitan dengan perkembangan fonologi Melayu Sri Lanka atau proses penyalinan berdasarkan ingatan dan pendengaran. Teks tersebut juga tetap mempertahankan pola macapat, khususnya metrum dhangdhanggula, yang menunjukkan adanya jejak pengetahuan tentang tradisi puisi Jawa. Selain kidung, manuskrip memuat daftar angka Jawa dari satu sampai empat puluh dan sebuah hadis berbahasa Arab yang diterjemahkan baris demi baris ke dalam bahasa Jawa. Semua ini menunjukkan bahwa manuskrip bukan hanya tempat menyimpan bahasa, tetapi juga ruang pertemuan antara bahasa, memori, agama, dan praktik budaya.

Dari perspektif filologi dan kodikologi, manuskrip ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana identitas budaya bekerja dalam masyarakat diaspora. Ricci menunjukkan bahwa bahasa Arab, Melayu, Jawa, dan Tamil dalam manuskrip tersebut sama-sama ditulis menggunakan bentuk-bentuk adaptasi aksara Arab, yaitu Arabu-Tamil, Jawi, dan Pegon. Kesamaan aksara tersebut menciptakan semacam jembatan visual dan intelektual antarkomunitas yang berbeda bahasa. Karena itu, Ricci mengusulkan agar pengalaman orang Melayu Sri Lanka tidak semata-mata dipahami melalui konsep “pusat” dan “pinggiran”, melainkan melalui konsep persilangan, koneksi, dan pergerakan. Sebuah komunitas yang jumlahnya kecil ternyata dapat memiliki jaringan pengetahuan yang sangat luas karena teks dan manusia terus bergerak melintasi batas geografis.

Pada akhirnya, manuskrip Enci Sulaiman memperlihatkan bahwa warisan Nusantara tidak selalu tinggal di Nusantara. Bahasa Melayu, tradisi Jawa, pengetahuan Islam, sastra, dan praktik intelektual dapat terus hidup melalui komunitas yang berpindah dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Penggunaan Melayu sebagai bahasa lisan dan tulisan, pemeliharaan Jawi, serta keberadaan teks-teks Jawa menunjukkan adanya upaya mempertahankan hubungan dengan dunia budaya yang menjadi asal-usul mereka. Bahkan penggunaan satu aksara untuk menulis empat bahasa—Arab, Melayu, Jawa, dan Tamil—menjadi simbol kuat tentang dunia yang saling terhubung, bukan dunia yang terpisah-pisah. Artikel Ricci pada akhirnya mengajak kita melihat manuskrip bukan hanya sebagai benda tua yang harus disimpan, tetapi sebagai jejak mobilitas manusia, jaringan pengetahuan, dan cara sebuah komunitas mempertahankan ingatan ketika berada jauh dari tanah asalnya.

Referensi Utama

Ricci, Ronit. 2014. “Asian and Islamic Crossings: Malay Writing in Nineteenth-Century Sri Lanka.” South Asian History and Culture 5(2): 179–194. DOI: 10.1080/19472498.2014.883765.

Referensi pendukung yang digunakan dalam artikel

  • Azra, Azyumardi. 1999. Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Bandung: Mizan.
  • Hussainmiya, B. A. 1987. Lost Cousins: The Malays of Sri Lanka. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.
  • Ricci, Ronit. 2012. “The Discovery of Javanese Writing in a Sri Lankan Malay Manuscript.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 168(4): 511–518.
  • Ward, Kerry. 2009. Networks of Empire: Forced Migration in the Dutch East India Company. Cambridge: Cambridge University Press.

Skriptoria

Writer & Blogger

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ARTIKEL LAINNYA

No Posts Found!

©Copyright Skriptoria Ahliney Manuskrip | Develop By Webskill.id