PENULIS: Hariani Yani dan Achmad Budiman Suharjono
EDITOR: Ardiansyah BS
TEBAL HALAMAN: 215 halaman
UKURAN BUKU: 17.5 x 25 cm
ISBN: dalam proses
DESKRIPSI :
Trilogi Jelajah Kuburan Londo adalah sebuah karya yang lahir dari kecintaan penulis terhadap Makam Sukun di Kota Malang, sebuah pemakaman bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan waktu sejak era kolonial Belanda. Dahulu dikenal sebagai Europeesche Begraafplaats, kompleks ini merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi warga Eropa yang menetap di Hindia-Belanda. Seiring berjalannya waktu, Makam Sukun menjadi satu-satunya pemakaman yang secara khusus diperuntukkan bagi warga Nasrani di Kota Malang, menjadikannya tidak hanya sebagai tempat yang memiliki nilai spiritual, tetapi juga menyimpan jejak-jejak sejarah yang mendalam.
Sebagai sebuah trilogi, buku ini mengupas berbagai aspek dari Makam Sukun, mulai dari sejarah umum dan khususnya, perubahan fungsi, hingga kisah-kisah yang tersembunyi di balik nisan-nisan tua yang berdiri kokoh. Setiap makam memiliki karakteristik tersendiri, baik dari segi bentuk, ornamen, maupun simbol-simbol yang terpahat, yang mencerminkan kepercayaan, status sosial, serta budaya dari mereka yang bersemayam di sana. Penulis secara rinci membahas makna dari logo dan simbol pada batu nisan, mengajak pembaca untuk memahami lebih dalam tentang filosofi dan sejarah yang terkandung dalam tiap ukiran.
Selain itu, buku ini juga menghadirkan biografi para tokoh yang dimakamkan di sana, membawa pembaca menelusuri jejak kehidupan mereka yang pernah menjadi bagian dari sejarah Kota Malang. Tidak hanya membahas makam, trilogi ini juga mengulas arsitektur kompleks pemakaman, baik dari segi interior maupun eksterior bangunan yang masih berdiri hingga saat ini. Dengan pendekatan yang mendetail dan berbasis penelitian sejarah, buku ini memberikan wawasan yang luas tentang warisan budaya yang tersimpan di Makam Sukun, serta pentingnya menjaga dan melestarikan situs bersejarah sebagai bagian dari identitas kota.
Melalui Trilogi Jelajah Kuburan Londo, pembaca diajak untuk melihat Makam Sukun bukan hanya sebagai tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga sebagai saksi perjalanan waktu yang menyimpan beragam cerita, peristiwa, dan nilai-nilai sejarah yang berharga. Buku ini menjadi jendela bagi siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang jejak kolonial di Malang, sekaligus mengapresiasi warisan masa lalu yang masih berdiri hingga kini.