Membaca Manuskrip Banda ‘Hikayat Lonthoir’ melalui Filologi Digital

Hikayat Lonthoir merupakan sebuah manuskrip langka yang berasal dari Kepulauan Banda, Maluku, dan memuat jejak penting sejarah lisan masyarakat setempat. Manuskrip ini ditulis oleh M.S. Neirabatij pada tahun 1922 dan merekam narasi masyarakat Banda di tengah kuatnya pengaruh narasi kolonial. Keberadaannya menjadi penting karena teks tersebut merepresentasikan sejarah lisan masyarakat adat yang relatif kurang terwakili dalam sumber-sumber sejarah dominan. Manuskrip ini kemudian didigitalisasi dan tersedia secara publik melalui koleksi National Maritime Museum di Amsterdam. Dengan demikian, digitalisasi membuka tahap baru untuk mengeksplorasi pengetahuan tradisional yang tersimpan dalam manuskrip tersebut.

Kajian terhadap Hikayat Lonthoir menunjukkan bahwa teknologi digital dapat digunakan untuk memperluas cara memahami manuskrip sejarah. Penelitian ini memadukan transkripsi berbasis Optical Character Recognition atau OCR yang diawasi manusia, analisis linguistik korpus, pengelompokan semantik, serta analisis jaringan entitas bernama. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa penelitian kuantitatif tidak harus menggantikan penelitian kualitatif, tetapi dapat melengkapinya, terutama ketika berhadapan dengan data berukuran sedang dan besar. Natural Language Processing atau NLP menjadi salah satu teknologi penting dalam pemrosesan teks historis dan berkembang sejalan dengan bidang humaniora digital. Melalui pendekatan komputasional, pola bahasa, tema, dan hubungan antarelemen dalam manuskrip dapat dianalisis secara lebih sistematis.

Hikayat Lonthoir memiliki karakter yang kompleks karena menggunakan ejaan historis, bentuk ortografi yang beragam, serta karakter tulisan yang menimbulkan tantangan bagi proses OCR. Kondisi tersebut dapat menghambat tokenisasi, pencocokan kata dengan kamus, dan identifikasi motif cerita. Untuk mengatasi persoalan itu, penelitian mengembangkan kerangka normalisasi yang transparan serta melakukan pengukuran terhadap reliabilitas OCR dan anotasi. Transkripsi dilakukan melalui ekstraksi otomatis menggunakan OCR kemudian diperiksa dan ditafsirkan kembali oleh manusia. Hasil pengujian menunjukkan akurasi OCR sebesar 86,1 persen pada tingkat karakter dan 70,4 persen pada tingkat kata, sehingga koreksi manual tetap menjadi bagian penting dari proses penelitian.

Setelah proses transkripsi, teks dibersihkan dan dinormalisasi untuk menghasilkan dataset yang dapat digunakan dalam analisis linguistik. Ejaan Melayu historis dinormalisasi dengan mempertimbangkan sistem Van Ophuijsen, misalnya perubahan oe menjadi u, tj menjadi c, dan dj menjadi j. Dari proses tersebut, penelitian menghasilkan 2.793 kata yang kemudian divalidasi menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI dan Pusat Rujukan Persuratan Melayu atau PRPM. Sebanyak 50,3 persen kata ditemukan dalam kedua kamus, sedangkan sebagian lainnya hanya terdapat dalam salah satu kamus atau tidak ditemukan dalam keduanya. Kata-kata yang tidak ditemukan tidak serta-merta dianggap sebagai kesalahan, karena sebagian dapat berupa bentuk arkais, kosakata regional Banda-Maluku, kata serapan, nama diri, atau bentuk lain yang memiliki nilai linguistik dan historis.

Dari sisi kosakata, penelitian memperlihatkan bahwa Hikayat Lonthoir memiliki sejumlah kelompok kata yang mencerminkan dunia sosial dan budaya masyarakat Banda. Kata raja menjadi salah satu kata dengan frekuensi tertinggi dan menunjukkan pentingnya tema kerajaan, penguasa, dan pemerintahan dalam narasi. Kosakata seperti saudara, tuan, dan bala memperlihatkan adanya hubungan sosial serta struktur hierarki dalam cerita. Sementara itu, kata seperti perahu, laut, dan Banda memperkuat gambaran mengenai kehidupan masyarakat kepulauan dan lingkungan maritim Maluku. Kemunculan kata Allah juga memperlihatkan dimensi keagamaan yang menjadi bagian dari lingkungan budaya dan narasi manuskrip.

Kajian morfologi menunjukkan bahwa penggunaan imbuhan merupakan salah satu karakter penting dalam bahasa Hikayat Lonthoir. Secara keseluruhan, penelitian menemukan 906 kata berimbuhan awalan dan 616 kata berimbuhan akhiran dalam korpus yang dianalisis. Awalan me- merupakan bentuk yang paling banyak ditemukan, diikuti ber- dan di-, sedangkan akhiran yang paling dominan adalah -an, kemudian -nya dan -lah. Pola tersebut memperlihatkan bahwa narasi dalam manuskrip memiliki banyak bentuk verbal yang menggerakkan peristiwa, sekaligus bentuk nominal yang membangun tema dan struktur sosial. Analisis morfologi dengan demikian tidak hanya menjelaskan bentuk bahasa, tetapi juga membantu memahami bagaimana tindakan, tokoh, waktu, ruang, dan hubungan antartokoh dibangun dalam cerita.

Aspek lain yang menarik adalah keberadaan kosakata serapan Arab dan Belanda yang mencerminkan lapisan sejarah masyarakat Banda. Kosakata Arab mencakup istilah keagamaan seperti Allah, azan, rahmat, ulama, syekh, dan tarekat, yang memperlihatkan kuatnya register Islam dalam teks. Sementara itu, kosakata Belanda seperti compagnia, gubernur, gulden, kapitan, dan perk berkaitan dengan pemerintahan kolonial, ekonomi perkebunan, serta kekuasaan VOC. Kedua lapisan kosakata tersebut menunjukkan bahwa bahasa dalam manuskrip dapat menjadi jejak interaksi antara agama, masyarakat lokal, dan struktur kolonial. Dengan demikian, analisis leksikal dapat membantu memperlihatkan bagaimana berbagai pengaruh sejarah hadir secara bersamaan dalam sebuah teks manuskrip.

Pengelompokan semantik kemudian memperlihatkan empat tema utama, yaitu maritim, keagamaan, sosial-genealogis, dan tempat atau geografis. Kosakata maritim dan sosial-politik muncul secara kuat dan membentuk salah satu tulang punggung narasi, sementara istilah geografis membantu menggambarkan pergerakan antarpulau dan ruang cerita. Kosakata keagamaan muncul lebih terkonsentrasi pada bagian-bagian tertentu yang berkaitan dengan ritual, sumpah, berkat, atau legitimasi. Analisis tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan laut, hubungan kekuasaan, kekerabatan, agama, dan ruang geografis tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dalam membentuk dunia naratif Hikayat Lonthoir. Meskipun demikian, penulis menekankan bahwa hasil pengelompokan semantik perlu dipahami sebagai pola eksploratif karena ukuran korpus yang relatif kecil membatasi kestabilan model.

Analisis jaringan entitas memberikan gambaran lain mengenai hubungan antartokoh, tempat, objek, dan konsep dalam cerita. Beberapa entitas penting yang muncul antara lain Raja Noeilaj, Siti Gelsoen, Liliselij, Kakijaij, Banda, Makkah, Jeddah, dan Belang Limareij. Jaringan tersebut memperlihatkan setidaknya dua kelompok naratif yang menonjol, yaitu kelompok genealogis-lokal yang berpusat pada asal-usul dan kekerabatan di Banda serta kelompok migrasi-keagamaan yang berkaitan dengan perjalanan menuju Makkah dan Jeddah. Raja Noeilaj memiliki posisi sentral dalam jaringan karena memiliki hubungan kuat dengan sejumlah tokoh dan dengan Banda sebagai ruang kekuasaan. Sementara itu, tokoh seperti Kakijaij dan Liliselij berfungsi sebagai penghubung antara narasi genealogis, perjalanan, migrasi, dan pengenalan Islam dalam cerita.

Pada akhirnya, penelitian terhadap Hikayat Lonthoir menunjukkan bagaimana manuskrip dapat dibaca melalui pertemuan antara filologi, linguistik historis, dan teknologi komputasional. Pendekatan tersebut membantu mengungkap pola kosakata, morfologi, ortografi, tema semantik, serta hubungan antartokoh yang mungkin sulit terlihat hanya melalui pembacaan konvensional. Kajian ini juga menempatkan Hikayat Lonthoir dalam tradisi sastra maritim Islam yang lebih luas, sembari menunjukkan kekhasan Banda dalam hal mobilitas laut, penyebaran kelompok kekerabatan, serta interaksi dengan pemerintahan kolonial Belanda. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi manuskrip bukan sekadar upaya mengubah dokumen fisik menjadi format digital, tetapi dapat menjadi pintu masuk menuju metode baru dalam memahami pengetahuan masa lalu. Dalam konteks filologi digital, Hikayat Lonthoir memperlihatkan bahwa teknologi dapat membantu menghidupkan kembali jejak bahasa, sejarah lisan, dan struktur budaya yang tersimpan dalam manuskrip untuk diteliti secara lebih terbuka dan berbasis bukti.

 

 

 

Referensi:

Kersapati, M. I., Perono Cacciafoco, F., Sihite, B., Wu, S., Widyaningrum, K. P., Atqa, M., & Toni, E. A. B. (2025). Unravelling lexical and narrative patterns in the Hikayat Lonthoir: A computational linguistics approach. Information, 16(12), 1069. https://doi.org/10.3390/info16121069

Skriptoria

Writer & Blogger

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ARTIKEL LAINNYA

No Posts Found!

©Copyright Skriptoria Ahliney Manuskrip | Develop By Webskill.id