Skriptoria, Jakarta — Upaya menghubungkan warisan pengetahuan masa lalu dengan kebutuhan masyarakat masa kini mengantarkan Skriptoria meraih Nugra Jasa Dharma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Penghargaan tersebut diberikan kepada Skriptoria pada Kamis (24/9/2026) di Auditorium Lantai 2 Perpusnas RI, Jakarta, sebagai apresiasi atas dedikasi dan kontribusi dalam pelestarian naskah kuno, pengembangan literasi, serta penguatan ekosistem ilmu pengetahuan di Indonesia.
Penghargaan ini menandai pengakuan terhadap upaya menghadirkan manuskrip tidak semata sebagai peninggalan sejarah yang disimpan dan dikaji, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang dapat diolah menjadi gagasan, karya, dan inovasi yang memiliki relevansi sosial. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari kerja Skriptoria yang selama ini berupaya mempertemukan riset manuskrip dengan teknologi digital, industri kreatif, literasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi Skriptoria, penghargaan tersebut memiliki arti lebih dari sekadar pencapaian kelembagaan. Nugra Jasa Dharma Pustaloka menjadi momentum untuk memperkuat gagasan bahwa penelitian manuskrip perlu memiliki jalur hilirisasi agar pengetahuan yang tersimpan dalam naskah dapat keluar dari ruang akademik dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Empu Skriptoria, Ardiansyah BS, mengatakan bahwa Skriptoria dibangun dengan gagasan untuk menjadikan manuskrip sebagai sumber pengetahuan yang dapat melahirkan dampak sosial. “Skriptoria merupakan social-enterprise yang bergerak di bidang hilirisasi riset manuskrip. Skriptoria berupaya untuk menghubungkan pengetahuan masa lalu dengan solusi masa depan, menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan,” kata Ardiansyah BS.
Menurut dia, pelestarian manuskrip tidak berhenti pada upaya menjaga fisik naskah. Manuskrip juga menyimpan pengetahuan mengenai sejarah, bahasa, keagamaan, ilmu pengetahuan, seni, teknologi, dan kehidupan sosial masyarakat pada masa lalu yang masih dapat dibaca kembali dalam konteks kekinian. Karena itu, Skriptoria mengembangkan pendekatan yang mempertemukan manuskrip, teknologi digital, kreativitas, dan komunitas. Riset dan kajian manuskrip dapat dikembangkan menjadi publikasi, konten literasi, produk kreatif, pelatihan, program pemberdayaan, hingga pengalaman edukatif yang memungkinkan masyarakat berinteraksi lebih dekat dengan warisan pengetahuan.
“Skriptoria tidak hanya menghidupkan kembali cerita lama, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih baik,” ujar Ardiansyah BS.
Gagasan tersebut sekaligus menjawab salah satu tantangan dalam pelestarian manuskrip: bagaimana memastikan warisan pengetahuan tetap memiliki kehidupan setelah proses konservasi dan digitalisasi dilakukan. Digitalisasi membuat manuskrip lebih mudah diakses, tetapi akses tersebut perlu diikuti dengan penelitian, interpretasi, publikasi, dan pemanfaatan yang bertanggung jawab agar pengetahuan di dalamnya dapat benar-benar dipahami dan memberikan manfaat.
Dalam konteks itu, hilirisasi riset menjadi jembatan antara pengetahuan yang dihasilkan oleh penelitian dan kebutuhan masyarakat. Manuskrip dapat menjadi bahan untuk menghasilkan karya kreatif sekaligus membuka ruang baru bagi literasi, pendidikan, ekonomi kreatif, dan pengembangan ekosistem pengetahuan.
Penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka juga memperkuat posisi kolaborasi sebagai bagian penting dalam pelestarian pengetahuan. Upaya menjaga dan mengembangkan warisan manuskrip tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi membutuhkan keterlibatan perpustakaan, akademisi, peneliti, komunitas, pemerintah, pelaku industri kreatif, dan masyarakat.
Bagi Skriptoria, penghargaan yang diterima di Perpusnas RI tersebut menjadi titik penting untuk melanjutkan perjalanan. Bukan sekadar menjaga agar manuskrip tetap tersimpan, tetapi memastikan pengetahuan yang terkandung di dalamnya terus dibaca, diteliti, diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk pengetahuan baru, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, manuskrip tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia dapat menjadi ruang pertemuan antara warisan pengetahuan, teknologi, kreativitas, dan masa depan.
