Skriptoria, Salatiga — Sebanyak 6.000 halaman manuskrip kuno di Salatiga dan Magelang, Jawa Tengah, ditargetkan menjalani digitalisasi melalui program Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA). Misi digitalisasi yang berlangsung pada 22 September hingga 9 Oktober 2026 tersebut menyasar koleksi manuskrip yang memuat khazanah keislaman, sastra Jawa, sejarah, hingga seni iluminasi manuskrip Nusantara.
Digitalisasi ini menjadi bagian dari upaya penyelamatan warisan intelektual yang tersimpan dalam manuskrip-manuskrip lama. Naskah yang menjadi objek digitalisasi tidak hanya menyimpan teks keagamaan, tetapi juga merekam perkembangan sastra, tradisi intelektual, sejarah lokal, serta pengetahuan masyarakat Jawa dari sekitar abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20.
Program DREAMSEA dikelola oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Program ini berfokus pada pelestarian dan penyediaan akses terhadap manuskrip yang memiliki nilai sejarah, keilmuan, keagamaan, dan kebudayaan di Asia Tenggara.
Memasuki fase kedua, DREAMSEA memperluas kerja digitalisasi manuskrip di kawasan Asia Tenggara. DREAMSEA menyebut fase pertamanya yang berakhir pada 2024 telah menghasilkan 579.562 gambar manuskrip, sementara fase kedua direncanakan berlangsung hingga 2030 dengan perhatian yang lebih besar pada manuskrip di Asia Tenggara daratan.
Dari Salatiga hingga Magelang
Misi kali ini menyasar koleksi manuskrip di Laboratorium Filologi Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUADAH) UIN Salatiga, serta koleksi pribadi sejumlah pemilik manuskrip di Salatiga dan Magelang. Koleksi pribadi yang menjadi bagian dari misi tersebut berasal dari Panji Hanief Gumilang, Warin Darsono, Imam Supaat, Gunawan Herdiwanto, Mukhammad Kharis Tauhid, dan A. Syakir Liyan Ummik.
Keberadaan koleksi pribadi menjadi penting dalam upaya pelestarian manuskrip karena banyak naskah Nusantara masih berada di tangan keluarga, komunitas, pesantren, maupun kolektor pribadi. Digitalisasi memungkinkan informasi yang terkandung dalam naskah tersebut didokumentasikan tanpa mengharuskan naskah asli berpindah dari tempat penyimpanannya.
Upaya serupa juga tengah mendapat perhatian di Salatiga. Pemerintah daerah melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga sebelumnya telah melakukan alih media terhadap sejumlah naskah kuno untuk menjaga informasi yang terkandung di dalamnya sekaligus memperluas akses bagi masyarakat, peneliti, dan pelajar.
Manuskrip yang didigitalisasi memperlihatkan keragaman tradisi intelektual masyarakat Jawa. Sebagian koleksi memuat teks-teks keislaman, termasuk karya-karya yang berkaitan dengan Mbah Zubair, salah satu tokoh ulama yang memiliki kaitan dengan tradisi keilmuan Islam di Salatiga. Di sisi lain, terdapat pula manuskrip sastra Jawa yang memuat kisah Menak, Panji, Syeikh Subakir, serta berbagai teks naratif lainnya. Kehadiran teks-teks tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi Islam, sastra Jawa, sejarah lokal, dan pengetahuan masyarakat saling berkelindan dalam khazanah manuskrip Nusantara.
Tidak seluruh manuskrip berbentuk kitab atau karya sastra. Koleksi yang didigitalisasi juga mencakup surat-surat tulisan tangan, catatan pribadi, dokumen historis, dan mushaf Al-Qur’an dengan iluminasi. Mushaf beriluminasi menjadi salah satu bagian penting karena selain menyimpan teks Al-Qur’an, naskah tersebut juga memperlihatkan ekspresi seni manuskrip Islam Nusantara melalui ornamen, komposisi halaman, tata letak, dan unsur dekoratif yang menyertai teks. Dengan demikian, satu koleksi manuskrip dapat memberikan informasi dari berbagai sisi sekaligus: sejarah intelektual, perkembangan bahasa, sastra, tradisi keagamaan, hingga sejarah seni dan material budaya.
Keragaman manuskrip juga terlihat dari material yang digunakan. Dalam misi digitalisasi ini ditemukan manuskrip yang ditulis pada kertas daluang, kertas produksi Eropa, dan kertas bergaris. Perbedaan material tersebut bukan sekadar persoalan fisik naskah. Bagi peneliti, bahan yang digunakan untuk menulis dapat menjadi petunjuk mengenai sejarah produksi manuskrip, perkembangan teknologi penulisan, serta kemungkinan jalur perdagangan dan distribusi bahan tulis di Jawa.
Secara kronologis, manuskrip yang menjadi bagian dari misi ini berasal dari rentang sekitar 1800 hingga 1960-an. Periode tersebut mencakup masa ketika tradisi penyalinan manuskrip masih memainkan peran penting dalam transmisi pengetahuan, khususnya dalam lingkungan keagamaan dan masyarakat terdidik. Karena itu, setiap halaman yang berhasil didokumentasikan bukan hanya merupakan gambar dari sebuah naskah lama. Ia merupakan rekaman material dari perjalanan pengetahuan yang berlangsung lintas generasi.
Proses digitalisasi dilakukan secara bertahap dan sistematis. Lokasi awal misi berada di Laboratorium Filologi FUADAH UIN Salatiga, sebelum dilanjutkan ke sejumlah koleksi pribadi di Salatiga dan Magelang. Setiap manuskrip didokumentasikan dengan memperhatikan kualitas gambar, keterbacaan teks, serta kelengkapan informasi yang diperlukan untuk kepentingan preservasi dan penelitian. Proses tersebut penting karena arsip digital yang dihasilkan akan menjadi representasi visual dari naskah asli.
Tim DREAMSEA yang terlibat dalam misi ini terdiri atas Ahmad Alfan Rizka sebagai Academic Expert, Matrokhim sebagai Asisten Academic Expert, Almer Samantha Hidaya sebagai fotografer, Warin Darsono sebagai asisten fotografer, serta Muchoyar Umami sebagai videografer. Keterlibatan tenaga akademik dan dokumentasi profesional menunjukkan bahwa digitalisasi manuskrip tidak sekadar memindahkan naskah ke format digital. Proses tersebut membutuhkan kombinasi pengetahuan filologi, dokumentasi visual, pengelolaan data, serta standar preservasi digital.
Membuka Akses Pengetahuan dari Manuskrip Lama
Nilai utama digitalisasi terletak pada peluang untuk memperluas akses terhadap pengetahuan yang sebelumnya hanya dapat ditemukan dalam koleksi terbatas. Manuskrip yang telah didokumentasikan secara digital dapat menjadi bahan penelitian bagi filolog, sejarawan, pengkaji Islam, ahli sastra, linguistik, maupun peneliti kebudayaan.
Digitalisasi juga mengurangi ketergantungan penelitian terhadap akses fisik ke naskah asli. Peneliti dapat mempelajari citra digital naskah tanpa harus terus-menerus menangani manuskrip yang secara material rentan terhadap kerusakan. Pada saat yang sama, digitalisasi membuka kemungkinan baru bagi generasi muda untuk mengenal manuskrip. Naskah yang sebelumnya hanya tersimpan di ruang koleksi dapat menjadi sumber pembelajaran, bahan penelitian, konten literasi, hingga objek pengembangan digital humanities.
Hal ini sejalan dengan perkembangan ekosistem pelestarian manuskrip di Salatiga. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga juga menempatkan digitalisasi sebagai salah satu cara untuk menjaga naskah kuno sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap sumber sejarah, pengetahuan, dan identitas budaya.
Misi digitalisasi DREAMSEA di Salatiga dan Magelang memperlihatkan bahwa pelestarian manuskrip tidak hanya berkaitan dengan menjaga benda berusia ratusan tahun. Yang diselamatkan adalah informasi dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
Manuskrip keislaman merekam perjalanan transmisi ilmu dan tradisi keagamaan. Manuskrip sastra Jawa menyimpan cerita, bahasa, dan imajinasi masyarakat masa lalu. Surat dan catatan pribadi merekam kehidupan sehari-hari, sementara mushaf beriluminasi memperlihatkan pertemuan antara tradisi keagamaan dan seni.
Target 6.000 halaman manuskrip dalam misi Salatiga–Magelang karena itu menjadi bagian dari pekerjaan yang lebih besar: membangun ekosistem pelestarian manuskrip Indonesia yang tidak hanya menjaga naskah, tetapi juga memastikan pengetahuan di dalamnya tetap dapat dibaca dan diteliti.
Pada akhirnya, digitalisasi bukan berarti menggantikan manuskrip asli. Digitalisasi justru menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa ketika usia, lingkungan, atau berbagai risiko mengancam kondisi fisik naskah, warisan intelektual yang tersimpan di dalamnya tetap memiliki kehidupan di masa depan.
Penulis : Matrokhim
Fotografer : Muchoyar Umami/Angga Yudhika Argiar
